FASTABIQUL KHAIROT

FASTABIQUL KHAIROT
BERLOMBA-LOMA DALAM KEBAIKAN

Senin, 26 April 2021

Kisah Dapat Hidayah Islam

 *KISAH NYATA..* Bagus untuk di simak 

Mohon dibaca pelan-pelan sampai selesai..

*Agnes* adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdo'a bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar *Martono*, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan _“Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia..!”_

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam.

Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang.

Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai Kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena keta'atan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik.

Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam.

Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini.

Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya.

Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan.

Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, _”Saya sudah tahu.”_ Itu saja.

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, _“Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”_

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.

Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, _“Pah, Rio mau pulang!”_

_“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,”_ jawab Martono.

_“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!”_ begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung.

Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta.

Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata,

_“Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”_

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan.

Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal anaknya Rio, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil.

Bisikan itu berucap, _“Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”_

Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu,

_”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!”_

Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, _“Kok Mamah ga dikasih?”_

_“Mamah kan nanti punya sendiri”_ jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu.

Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000.

Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp. 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun.

Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan,

_“Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdo'a saja.”_

Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, _“Buka Al Qur'an surat Yunus!”._

Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya.

Bahkan setelah mendapatkan Al Qur'an dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

_“Mau Tuhan apa sih?!”_ protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai.

Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap _“Astaghfirullah.”_

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: _“Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”._

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.

Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, _“Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”._

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat.

Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja.

Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan.

Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

_“Lho kok Mamah shalat,”_ tanya Martono.

_“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,”_ jawab Agnes lirih.

Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun akhirnya kembali ke Islam.

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan.

Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.

Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung.

Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, _“Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!”_ ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia.

Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu.

Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, _“Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”_

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang ta'at.

Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Pak Martono SH beliau dulu waktu Dirut Telkom jaman nya Pak Cacuk, bertugas sebagai Kasekper, Ka Inditor, Kadiv Properti.

Setelah kembali moslem Beliau mewakafkan 7 ha tanahnya untuk pesantren Baitul Hidayah di Bandung. Subhanallah.

ALLAH MAHA PENYAYANG KEPADA HAMBA-NYA..

Kisah nyata ini tolong dishare sebagai bagian da'wah kita. Jangan berhenti di tangan Anda.

Jumat, 23 April 2021

Keutamaan Siti Khadijah

 *Perempuan kaya untuk Agamanya Allah SWT*

Dua pertiga (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah binti khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Khadijah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, ?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib. jawab, menantu Rasullulah...

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. 

“Ya Allah, ya ILahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku, Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

Semoga sharing ini bermanfa'at

Dan Semoga kita semua sehat dan di beri rezeki melimpah 7 turunan seperti air mengalir ini.. dan diundang segera oleh Allah SWT menunaikan Haji dan Umroh dengan cara2Nya.

Aamiin Yaa Robbal'alamin 🤲🤲🤲 🙏

Rabu, 21 April 2021

Keajaiban Sedekah

 🏵️ *B͟A͟T͟A͟L͟ M͟I͟S͟K͟I͟N͟ L͟A͟G͟I͟*

_(s͟u͟n͟g͟g͟u͟h͟ s͟e͟d͟e͟k͟a͟h͟ i͟t͟u͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ a͟m͟p͟u͟h͟)_

D͟i͟ z͟a͟m͟a͟n͟ N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ A͟S͟, a͟d͟a͟ s͟e͟p͟a͟s͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟m͟i͟ i͟s͟t͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ h͟i͟d͟u͟p͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟u͟h͟ k͟e͟m͟i͟s͟k͟i͟n͟a͟n͟ n͟a͟m͟u͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟d͟a͟p͟i͟n͟y͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟u͟h͟ k͟e͟s͟a͟b͟a͟r͟a͟n͟.

S͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟t͟i͟k͟a͟, t͟a͟t͟k͟a͟l͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ b͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟r͟a͟h͟a͟t͟, s͟a͟n͟g͟ i͟s͟t͟r͟i͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ s͟u͟a͟m͟i͟n͟y͟a͟: 

_"W͟a͟h͟a͟i͟ s͟u͟a͟m͟i͟k͟u͟, b͟u͟k͟a͟n͟k͟a͟h͟ M͟u͟s͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ N͟a͟b͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟i͟s͟a͟ b͟e͟r͟b͟i͟c͟a͟r͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ T͟u͟h͟a͟n͟n͟y͟a͟ (A͟l͟l͟a͟h͟)..?"_

L͟a͟l͟u͟ s͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟m͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟w͟a͟b͟ : 

_"Y͟a͟, b͟e͟n͟a͟r͟."_

S͟a͟n͟g͟ i͟s͟t͟r͟i͟ b͟e͟r͟k͟a͟t͟a͟ l͟a͟g͟i͟: 

_"K͟e͟n͟a͟p͟a͟ k͟i͟t͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ p͟e͟r͟g͟i͟ s͟a͟j͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟-n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟k͟a͟n͟ k͟o͟n͟d͟i͟s͟i͟ k͟i͟t͟a͟ y͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟u͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟m͟i͟s͟k͟i͟n͟a͟n͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟n͟t͟a͟n͟y͟a͟ a͟g͟a͟r͟ i͟a͟ b͟e͟r͟b͟i͟c͟a͟r͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ R͟a͟b͟b͟-n͟y͟a͟, a͟g͟a͟r͟ D͟i͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟n͟u͟g͟e͟r͟a͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ k͟i͟t͟a͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ ?"_

A͟k͟h͟i͟r͟n͟y͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟i͟s͟k͟i͟n͟a͟n͟n͟y͟a͟ i͟t͟u͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ A͟S͟.

L͟a͟l͟u͟ N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ b͟e͟r͟m͟u͟n͟a͟j͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟d͟a͟p͟ A͟l͟l͟a͟h͟ S͟W͟T͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟y͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟.

A͟l͟l͟a͟h͟ S͟W͟T͟ p͟u͟n͟ b͟e͟r͟f͟i͟r͟m͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ M͟u͟s͟a͟: 

_*"W͟a͟h͟a͟i͟ M͟u͟s͟a͟, k͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟l͟a͟h͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟, a͟k͟u͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ i͟t͟u͟ a͟k͟u͟ b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ h͟a͟n͟y͟a͟ s͟a͟t͟u͟ t͟a͟h͟u͟n͟,  d͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ t͟a͟h͟u͟n͟, a͟k͟a͟n͟ a͟k͟u͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ m͟i͟s͟k͟i͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟."*_

L͟a͟l͟u͟ N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ m͟e͟n͟y͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ b͟a͟h͟w͟a͟s͟a͟n͟y͟a͟ A͟l͟l͟a͟h͟ t͟e͟l͟a͟h͟ M͟e͟n͟g͟a͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟m͟o͟h͟o͟n͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟, d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ i͟t͟u͟ h͟a͟n͟y͟a͟ s͟a͟t͟u͟ t͟a͟h͟u͟n͟ l͟a͟m͟a͟n͟y͟a͟. 

M͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ k͟a͟b͟a͟r͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟u͟h͟ k͟e͟b͟a͟h͟a͟g͟i͟a͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟g͟e͟m͟b͟i͟r͟a͟a͟n͟.

B͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ h͟a͟r͟i͟ k͟e͟m͟u͟d͟i͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟n͟g͟l͟a͟h͟ r͟i͟z͟q͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟i͟m͟p͟a͟h͟ d͟a͟r͟i͟ j͟a͟l͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟a͟k͟ d͟i͟k͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ d͟a͟r͟i͟m͟a͟n͟a͟ a͟r͟a͟h͟n͟y͟a͟.

D͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟p͟u͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟k͟a͟y͟a͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ i͟t͟u͟.


K͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ p͟u͟n͟ b͟e͟r͟u͟b͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟l͟i͟m͟p͟a͟h͟. 

L͟a͟l͟u͟ s͟a͟n͟g͟ i͟s͟t͟r͟i͟ b͟e͟r͟k͟a͟t͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ s͟u͟a͟m͟i͟n͟y͟a͟: 

_"W͟a͟h͟a͟i͟ s͟u͟a͟m͟i͟k͟u͟, s͟e͟l͟a͟m͟a͟ s͟e͟t͟a͟h͟u͟n͟ i͟n͟i͟ k͟i͟t͟a͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ m͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ m͟i͟s͟k͟i͟n͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟y͟a͟n͟t͟u͟n͟i͟ a͟n͟a͟k͟-a͟n͟a͟k͟ y͟a͟t͟i͟m͟ m͟u͟m͟p͟u͟n͟g͟ k͟i͟t͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ p͟u͟n͟y͟a͟ k͟e͟s͟e͟m͟p͟a͟t͟a͟n͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟e͟t͟a͟h͟u͟n͟ k͟i͟t͟a͟ a͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ m͟i͟s͟k͟i͟n͟."_

S͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟m͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟w͟a͟b͟: _"B͟a͟i͟k͟l͟a͟h͟, k͟i͟t͟a͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ i͟n͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟n͟t͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟n͟y͟a͟."_

K͟e͟m͟u͟d͟i͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟m͟b͟a͟n͟t͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟, d͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟-t͟e͟m͟p͟a͟t͟ s͟i͟n͟g͟g͟a͟h͟ p͟a͟r͟a͟ M͟u͟s͟a͟f͟i͟r͟, s͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟n͟y͟e͟d͟i͟a͟k͟a͟n͟ m͟a͟k͟a͟n͟ g͟r͟a͟t͟i͟s͟ b͟a͟g͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟.

S͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ t͟a͟h͟u͟n͟ b͟e͟r͟l͟a͟l͟u͟, m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ t͟e͟t͟a͟p͟ s͟i͟b͟u͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟d͟i͟a͟k͟a͟n͟ m͟a͟k͟a͟n͟a͟n͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ l͟u͟p͟a͟ b͟a͟h͟w͟a͟s͟a͟n͟y͟a͟ s͟u͟d͟a͟h͟ s͟e͟t͟a͟h͟u͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ k͟a͟y͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ l͟u͟p͟a͟ b͟a͟h͟w͟a͟ a͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ m͟i͟s͟k͟i͟n͟.

N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ p͟u͟n͟ h͟e͟r͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟h͟a͟t͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟t͟a͟p͟ k͟a͟y͟a͟.

K͟e͟m͟u͟d͟i͟a͟n͟ N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟ k͟p͟d͟ A͟l͟l͟a͟h͟ S͟W͟T͟ : 

_"Y͟a͟ R͟a͟b͟b͟, b͟u͟k͟a͟n͟k͟a͟h͟ E͟n͟g͟k͟a͟u͟ b͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ h͟a͟n͟y͟a͟ s͟a͟t͟u͟ t͟a͟h͟u͟n͟ s͟a͟j͟a͟, k͟e͟m͟u͟d͟i͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ i͟t͟u͟ E͟n͟g͟k͟a͟u͟ a͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟m͟i͟s͟k͟i͟n͟a͟n͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ s͟e͟m͟u͟l͟a͟?"_


A͟l͟l͟a͟h͟ S͟W͟T͟ p͟u͟n͟ b͟e͟r͟f͟i͟r͟m͟a͟n͟: 

_*"W͟a͟h͟a͟i͟ M͟u͟s͟a͟, A͟k͟u͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟a͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟n͟t͟u͟ r͟i͟z͟q͟i͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟a͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ p͟i͟n͟t͟u͟ r͟i͟z͟k͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟a͟m͟b͟a͟-h͟a͟m͟b͟a͟ K͟u͟."*_

_*"W͟a͟h͟a͟i͟ M͟u͟s͟a͟, m͟a͟k͟a͟ A͟k͟u͟ t͟i͟t͟i͟p͟k͟a͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ l͟a͟m͟a͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ i͟t͟u͟ p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟."*_

_*"W͟a͟h͟a͟i͟ M͟u͟s͟a͟, A͟k͟u͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ m͟a͟l͟u͟ j͟i͟k͟a͟l͟a͟u͟ a͟d͟a͟ h͟a͟m͟b͟a͟-K͟u͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ m͟u͟l͟i͟a͟ d͟a͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ p͟e͟m͟u͟r͟a͟h͟ d͟a͟r͟i͟p͟a͟d͟a͟ A͟k͟u͟."*_

N͟a͟b͟i͟ M͟u͟s͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟w͟a͟b͟: 

سبحانك اللهم ماأعظم شأنك وأرفع مكانك

_"M͟a͟h͟a͟ S͟u͟c͟i͟ E͟n͟g͟k͟a͟u͟ Y͟a͟ A͟l͟l͟a͟h͟, b͟e͟t͟a͟p͟a͟ M͟a͟h͟a͟ M͟u͟l͟i͟a͟ u͟r͟u͟s͟a͟n͟-M͟u͟ d͟a͟n͟ M͟a͟h͟a͟ T͟i͟n͟g͟g͟i͟ k͟e͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟-M͟u͟."_

*J͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟a͟n͟y͟a͟k͟a͟n͟ n͟i͟k͟m͟a͟t͟ m͟a͟n͟a͟ l͟a͟g͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ k͟i͟t͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟*, 

*t͟a͟p͟i͟ t͟a͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟, n͟i͟k͟m͟a͟t͟ m͟a͟n͟a͟ l͟a͟g͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ k͟i͟t͟a͟ s͟y͟u͟k͟u͟r͟i͟ d͟a͟n͟ b͟e͟l͟u͟m͟ k͟i͟t͟a͟ s͟e͟d͟e͟k͟a͟h͟k͟a͟n͟.*

*K͟i͟t͟a͟ s͟e͟r͟i͟n͟g͟ l͟u͟p͟a͟ b͟a͟h͟w͟a͟ n͟i͟k͟m͟a͟t͟ d͟a͟n͟ a͟n͟u͟g͟e͟r͟a͟h͟ A͟l͟l͟a͟h͟ i͟t͟u͟ h͟a͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟ t͟i͟t͟i͟p͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟i͟s͟a͟ d͟i͟a͟m͟b͟i͟l͟ o͟l͟e͟h͟-N͟y͟a͟ k͟a͟p͟a͟n͟ s͟a͟j͟a͟ D͟i͟a͟ m͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟a͟m͟b͟i͟l͟n͟y͟a͟...*

_S͟e͟m͟o͟g͟a͟ B͟e͟r͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟_

*Silahkan di Share !*

Minggu, 28 Maret 2021

Amal & Budi Balas Kebaikan

 *Ada Pepatah lama, Air Susu dibalas dgn Air Tuba*

Tetapi ini Air Susu dibalas dgn Nyawa.

*KISAH SEGELAS SUSU*


Kisah nyata ini membuat

bergetar hati.


Suatu hari, anak seorang lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu.

Di kantongnya hanya tersisa beberapa sen uang, tidak cukup Utk beli makanan dan dia sangat lapar.


Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari

rumah berikutnya.

Akan tetapi,

anak tsb kehilangan keberanian , saat itu seorang wanita muda membuka pintu rumah.

Anak itu tidak jadi meminta makanan, dia

hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat dan berpikir, bahwa anak lelaki

tersebut pasti lapar, oleh karena itu, dia membawakan segelas susu, dan anak lelaki tsb meminumnya dengan lambat.


Kemudian dia bertanya : Berapa aku harus membayar untuk

segelas susu ini ?


Wanita itu menjawab : Kamu tidak perlu bayar apapun.  Agama kami  mengajarkan jangan menerima bayaran untuk KEBAIKAN ”kata wanita itu.

Kemudian anak lelaki itu

menghabiskan susunya dan berkata : Terima kasih atas kebaikan Ibu semoga Allah membalas kebaikan yg tulus ini dengan berlipat ganda.

Sekian tahun kemudian, wanita tersebut mengalami sakit jantung yang sangat serius.

Para dokter di kotanya sudah tidak sanggup menanganinya.

Akhirnya, mereka mengirimnya ke kota besar dimana ada dokter spesialis jantung yang mungkin mampu

menangani penyakit jantung yang langka tersebut.

Dokter Spesialis dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.

Saat Dokter mendengar kota asal wanita tsb, terbersit seberkas pancaran aneh pada matanya.

Beliau segera bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit

menuju kamar rawat wanita

tsb.

Dengan berpakaian jubah

kedokteran, dia menemui wanita itu.

Dia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang.

Kemudian, dia kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik

untuk menyelamatkan nyawa wanita itu.

Mulai hari itu, dia selalu

memberikan perhatian khusus untuk kasus wanita tersebut.

Setelah melalui perjuangan yang

panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.

Wanita itu sembuh !


Kemudian, dokter tsb meminta bagian keuangan rumah sakit

untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu kepadanya.

Dokter melihat biaya tagihan dan

menulis sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tsb, lalu

mengirimkannya ke kamar pasien wanita tsb

Wanita itu sangat gelisah sewaktu akan membuka tagihan tersebut.

Dia sangat khawatir, tidak akan mampu membayar tagihannya, sekalipun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya . . . dia memberanikan diri

untuk membuka tagihan tsb. Ternyata pada pojok atas lembar tagihan tsb, ada tulisan yang menarik perhatiann wanita tsb, dibacanya tulisan yang berbunyi :

TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS SUSU !!!


Tertanda : Dokter Spesialis Jantung 

Air mata kebahagiaan

membanjiri mata wanita itu.


Ya Tuhan......Kasih SayangMu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.


*Terkadang kebaikan yang tulus dimasa lalu dapat menyelesaikan masalah kita dimasa yang akan datang.*


Anda tau siapa dokter Spesialis tsb  ?

Dialah anak penjual asongan yang pernah diberinya segelas susu oleh wanita tsb


Ya Tuhan....

Mudahkanlah segala urusan orang yang membaca status ini.

Dekatkanlah rejekinya, sehatkanlah jiwa raganya untuk sahabat kami yang mau nge like dan nge share status ini . . .

Sekarang Anda mempunyai 3 pilihan :

1. Anda;

aku akan biarkan tulisan ini tetap di sini saja.


2. Malaikat; 

ingatkan pada teman yang anda kenal, sebarkanlah !


3. Setan ;

Tidak usah penat2 dan sibuk-sibuk menyebarkan tulisan ini. Biarkan saja di sini kalau boleh hapus/tutup saja. Mereka tidak perlu membaca tulisan ini.


🍃 Silahkan dishare, mungkin bisa bermanfaat buat yang membacanya. Kalo disimpen sendiri kita akan rugi kesempatan menebar kebaikan. 👏🏻👏🏻👏🏻

Semoga Allah senantiasa selalu melindungi kita semua. 

*Aamiin ya Robbal'alamin.* 🤲🤲😲

Kamis, 18 Maret 2021

Mukjizat Al Qur'an

 *JIKA  ADA ORANG  YANG BERTANYA KEPADA MU ...*

*APA BUKTINYA BAHWA AL QUR'AN ITU MEMANG DARI ALL0H PENCIPTA JAGAD RAYA INI DAN BUKAN SEKEDAR KARANGAN MUHAMMAD SAW.*

Maka, dengan tersenyum ramah jawablah ...

Insya ALL0H saya akan jawab secara ilmiah

semoga anda pun memikirkan jawaban saya ini dengan pikiran yang jernih tanpa dipengaruhi subyektivitas dan fanatisme kelompok ...

*Bukti pertama.*

Dari analisa sejarawan, terbukti bahwa memang Muhammad saw ummi : buta huruf dan tidak pernah sekolah karena memang pada masa itu belum ada sekolahan

Masyarakat Arab belum mengenal ilmu seperti ilmu politik, ekonomi, matematika, sosiologi, kenegaraan, ilmu etika dll.

Mungkinkah orang yang buta huruf dan tidak mengenal ilmu bisa bicara masalah hukum, tata negara, sistem ekonomi, etika dll yang semua pembicaraan tsb ada di dalam Al Qur'an ?

Tentu saja jawabannya tidak mungkin. 

Artinya bahwa Al Qur'an bukan karangan Muhammad saw. 

Tidak mungkin menurut akal sehat orang buta huruf yang tidak mengenal ilmu sama sekali bisa bicara hukum, kenegaraan, undang undang kemasyarakatan, akhlaq, sosiologi dan ratusan kalimat kalimat bijak secara spontan dengan bahasa yang memukau para ahli bahasa Arab ...

*Bukti kedua.*

Al Qur'an banyak bicara tentang sejarah sejak zaman Adam a.s hingga Isa a.s. 

Padahal Muhammad saw tidak pernah dapat informasi tentang sejarah hidup mereka.

Cerita tentang Musa a.s dan Isa a.s sangat lengkap. Bahkan seorang pendeta sangat bersyukur ternyata di dalam Al Qur'an ada pembelaan terhadap kesucian bunda Maria yang oleh orang Yahudi dituduh telah berzina sehingga melahirkan Isa a.s. 

Dari mana Muhammad saw dapat cerita seluruh kisah para nabi tsb padahal di Mekah dan Madinah hampir2 tidak ada orang kristen.

Jelas akal sehat kita akan menolak jika dikatakan Al Qur'an karangan Muhammad saw.

Begitu juga cerita tentang Musa a.s sangat lengkap

padahal orang Yahudi tidak ada yang mengajar

kan Taurat kepada nabi yang tinggal di Mekah.

Bahkan di Mekah hampir2 tidak ada orang Yahudi.

*Bukti ketiga.*

Dulu ada seorang pelaut Eropa. 

Kebetulan di atas kapalnya ada Al Qur'an terjemah. 

Sekedar mengisi kekosongan selama dalam pelayaran beliau iseng membaca baca Al Qur'an terjemah tsb. Beliau sang terpesona dengan pembicaraan Al Qur'an tentang lautan, badai dan terpesona terkait. 

Bahasanya pun sangat dalam dan puitis.

Ketika beliau berlabuh di India dia bertanya tanya kepada Muslim disana tentang Muhammad saw 

Dari muslim India tsb dia memperoleh keterangan bahwa Muhammad Saw hidup di tengah gurun pasir dan tidak pernah melihat lautan.

Maka dia sangat yakin bahwa mustahil Al Qur'an karangan Muhammad saw yang bisa dengan sangat indah melukiskan lautan padahal ia tidak pernah melihat laut. 

Sehingga ia pun segera memutuskan masuk Islam.

*Bukti ke empat.*

Di dalam surah al Furqan ayat 53 ALL0H SWT berfirman : 

*_Dan Dialah ( ALL0H ) yang membiarkan dua laut yang mengalir berdampingan yang satu tawar dan segar yang lainnya asin dan pahit._*

*_Dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus._*

Dari mana Muhammad saw lelaki gurun pasir itu tahu padahal beliau tidak mengerti sedikit pun tentang lautan dan bahkan dua laut yang beda rasa dan warna itu pada masa hidup beliau belum ditemukan orang

Jadi sekali lagi, tidak mungkin Al Qur'an tsb karangan Muhammad saw.

*Bukti kelima.*

Pada masa Muhammad saw hidup, ada dua negara imperium yaitu imperium Romawi dan Persia.

Dua imperium ini sering berperang. 

Ketika dimasa hidup beliau, Persia berhasil mengalahkan Romawi.

Hal ini membuat masyarakat musyrik Mekah menjadi gembira karna orang Persia juga penyembah berhala.

Sebaliknya orang Islam bersedih karena Romawi menganut agama Nasrani yg seakar dengan islam.

Kemudian turun ayat menghibur org islam

Surah Ar Rum ayat 2,  3  &  4  menjelas bahwa beberapa tahun lagi akan kembali terjadi peperangan dan peperangan tsb akan  dimenangkan oleh Romawi sehingga umat islam yang pro Romawi pun menjadi gembira.

Ayat ini pun ditertawai oleh kaum Musyrik Qurais dianggap sebagai bualan Muhammad saja karena waktu itu Romawi terlihat sudah sangat lemah.

Maka Abu Bakar menantang orang musyrik untuk bertaruh dengan taruhan belasan ekor unta. 

Tantangan diterima oleh musrik Qurais dan tujuh tahun kemudian apa yang di ramalkan Al Qur'an pun terjadi :

Romawi kembali perang dengan Persia dan peperangan dimenangkan orang Romawi.

Jika Al Qur'an bukan dari ALL0H swt dan hanya sekedar karangan Muhammad saw tentu saja beliau tidak akan bisa meramal sesuatu yang akan terjadi dimasa depan.

*Bukti ke enam.*

Seluruh ahli bahasa dan ahli syair dari kalangan musyrik Qurais mengakui secara jujur bahwa kalimat kalimat Al Qur'an sangat tinggi kandungannya, sangat indah susunan kata katanya dan sangat memukau.

Tidak ada sebelumnya kalimat kalimat cerita, nasehat dan kalimat berita yang ditulis

manusia yang sebagus Al Qur'an sampai sampai org Qurais pun menjuluki Muhammad saw sebagai tukang sihir yang kata katanya bisa memukau semua orang.

Dan bukti yang lebih mencengangkan lagi

dari jutaan kitab yang pernah ada di dunia ini hanya Al Qur'an lah satu satunya kitab yang bisa dihapal secara pas kata demi kata oleh jutaan orang.

Bahkan orang orang yang tidak mengerti bahasa Arab seperti ribuan anak anak indonesia mampu menghapal Al Qur'an yang lebih dari 600 halaman.

Adapun pastur dan pendeta, tidak akan mampu menghapal injil ( Bibel ) kata demi kata secara pas, walau hanya 100 halaman.

Hal ini menunjukkan bahwa ALL0H swt Sebagai yang menurunkan AlQur'an telah mengatur sedemikian rupa sehingga memudahkan bagi semua orang untuk menghapalnya.

*Bukti ke tujuh.*

Dalam surah Yunus ayat 92 diceritakan bahwa jasad Fir'aun musuhnya Musa a.s akan diselamatkan ALL0H swt. 

Padahal peristiwa sejarah Musa dan Fir'aun tsb terjadi 1.200 thn sebelum masehi.

Pada awal abad ke-19 thn 1896 seorang ahli purbakala : Loret, menemukan dilembah raja raja Luxor Mesir satu mumi yang dari data data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah.

Pada tanggal 8 Juli 1908 Elliot Smith mendapat izin untuk membuka pembalut Fir'aun & ternyata jasadnya masih utuh seperti yang diberitakan Al Qur'an.

Nah, mungkinkah Muhammad saw yang buta huruf tsb bisa mengetahui hal tsb padahal di dalam taurat dan injil pun tidak ada diceritakan ?

Tidak dapat tidak, akal sehat yang jujur akan berkata bahwa Al Qur'an bukan karangan Muhammad saw.

*Bukti ke delapan.*

Dalam AlQur'an surat Yunus 10 : 15 ALL0H swt menjelaskan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri sedangkan cahaya bulan adalah pantulan.

Dari mana Muhammad saw bisa tahu padahal dia buta huruf dan ilmu alam zaman itu pun belum sampai kesitu bahkan belum ada kajian keilmuan ....

*Bukti ke sembilan.*

Al Qur'an turun secara acak. 

Kadang kala turun karena ada suatu peristiwa atau pertanyaan sahabat maupun orang kafir. 

Jadi tidak ada upaya penyusunan kalimat.

Kebanyakan ayat turun secara spontan dan disampaikan Muhammad saw secara lisan.

Namun yang terjadi sangat mencengangkan.

Banyak terdapat keharmonisan yang diluar nalar manusia.

Dari hasil studi bertahun tahun Syeikh Abdul Razzak Naufal menemukan hal hal yang menakjubkan yang kemudian ia paparkan dalam kitab yang ia tulis :

Mukjizat Al Qur'an al Kariem :

*Satu.*

Terdapat keseimbangan kata dengan lawan katanya :

Alhaya' ( hidup ) dan al maut ( mati ) disebut sama sama 145 kali.

Annaf ( manfaat ) dan mudorat disebut dalam jumlah yang sama 50 kali.

Panas dan dingin 4 kali

Kebaikan dan keburukan : 167 kali

Kufur dan Iman, dalam bentuk kata indifinite masing masing 17 kali ... dll.

*Dua.*

Kata hari dalam bentuk tunggal berjumlah 365 ( jumlah 1 thn )

Kata hari dalam bentuk jamak berjumlah 30 kali penyebutan ( angka satu bulan )

Kata yang berarti bulan hanya disebut 12 kali menunjukkan jumlah setahun. Dll ...

Apakah semua ini kebetulan ?

Mudah mudahan dengan keterangan sedehana ini bisa meningkatkan kualitas iman kita dari haqqul yakin menjadi ainul yaqin : 

keyakinan yang sudah terbukti dan tidak bisa dibantah.

Dan dengan anda membagikan ilmu yang sangat penting ini untuk diketahui banyak orang,

anda pun terhitung telah melakukan amal jariah yang sangat penting dalam urusan syiar islam.

*Barakallah li wa lakum Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.*

Senin, 15 Maret 2021

Do'a Amalan Pelancar Hajat

 DO'A ABAH GURU SEKUMPUL


Almarhum Abah Guru Sekumpul setiap selesai sholat fardhu sering baca do'a,

YAA ARHAMAR ROHIMIIN


Salah satu fadilahnya nya, Abah Guru Sekumpul di setiap selesai sholat selalu membaca "YAA ARHAMR ROOHIMIIIN 3X IRHAMNAA..Yaitu disebutkn dalam sebuah Hadist, Rasulullah saw bersabda:


إن لله تعالى ملكا موكلا بمن يقول: يا أرحم الراحمين,فمن قالها ثلاثا قال له الملك: إن أرحم الراحمين قد أقبل عليك فاسأل.المجالس السنية:٣٥


Artinya:

Sesungguhnya bagi Allah ta'ala ada seorang Malaikat yang di utus Allah kepada setiap orang-orang yang mengata ia (berdo'a) dengan Asma Allah: 

YAA ARHAMAR ROHIMIIN.Maka,barangsiapa mengata ia(berdo'a) dengan kalimat "YAA ARHAMAR ROHIMIIIN 3X, Niscaya berkata(mendo'akan) kepadanya oleh Malaikat yang di wakilkan Allah tersebut seraya berkata ia: HAI HAMBA, SUNGGUH ALLAH TELAH MENERIMA ATAS DO'A ENGKAU DAN PINTA LAH KEPADA ALLAH AKAN SEGALA PERMOHONAN ENGKAU KEPADA ALLAH, NISCAYA ALLAH KABULKAN.


Mudahan do'a kita semua diijabah oleh Allah swt,mudahan dosa kita diampuni oleh Allah,dikabulkan semua hajat, selamat dunia akherat. 

Aamiin.!!!


ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ


(Al Majalisus Saniyyah.Hal:35 dan kitab Al Imdad)

---------------

Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Aalihi Wa Shohbihi Wasallim.

---------------------------------------

SILAHKAN DI BAGIKAN/SHARE, SEMOGA BERMANFAAT.

---------------------------------------

*** YANG DI ANJURKAN HABIB MUNZIR AL MUSAWA ***


.

Sabtu, 13 Maret 2021

Kita Butuh Orang Lain

 Semua *PETINJU* profesional memiliki *PELATIH.*

Bahkan, petinju *LEGENDARIS* sehebat *MOH ALI* sekalipun memiliki *PELATIH.*

Yaitu *ANGELO DUNDEE* yang membantu *ALI* menjadi *JUARA* dunia 3 kali.

Padahal jika mereka *BERDUA* disuruh  *BERTANDING* sangat *JELAS* Angelo Dundee tidak akan pernah *MENANG.*

Mungkin kita ber-tanya², mengapa *MOH ALI* butuh *PELATIH* kalau *JELAS* dia pasti *MENANG* melawan pelatihnya ? 

*KETAHUILAH...*

Bahwa *MOH ALI* butuh *PELATIH* bukan karena pelatihnya lebih *HEBAT* tapi karena ia membutuhkan seorang untuk *MELIHAT* hal² yang *"TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"*

Hal yang tidak dapat kita *LIHAT* dengan *MATA* sendiri itu yang disebut : *"BLIND SPOT"* atau *"TITIK BUTA".*

Kita hanya bisa melihat *"BLIND SPOT"* dengan bantuan orang lain.

Dalam *HIDUP* kita *BUTUH* seseorang untuk *MENGAWAL* kehidupan kita, *SEKALIGUS* untuk *MENGINGATKAN* kita seandainya *PRIORITAS* hidup kita mulai *BERGESER.*

Kita butuh orang lain YANG :

_*×. MENASIHATI*_

_*×. MENGINGATKAN*_

_*×. MENEGUR*_

Jika kita *MULAI* melakukan *SESUATU* hal yang *KELIRU* yang *MUNGKIN* tidak kita *SADARI.*

Kita butuh *KERENDAHAN HATI* untuk :

×. Menerima _*KRITIKAN*_

×. Menerima _*NASEHAT*_

×. Menerima _*TEGURAN*_

Itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia *SEMPURNA.* 

Jadi, biarkan orang lain menJadi *"MATA"* kita di area *'BLIND SPOT'* kita, sehingga kita bisa *MELIHAT* apa yang tidak *BISA* kita *LIHAT* dengan _*'PANDANGAN'*_ kita *SENDIRI.*


Mari kita saling  menasehati dalam *KEBAIKAN & KESABARAN....*

Selamat berbagi untuk semua....🙏🙏🙏🤗🤗🤗😍😍😘😘😘😘

Kumpulan Doa-doa Mujarab

♦💦  KUMPULAN DOA DOA MUJARAB💦♦ بِـــــسْمِ اللٌهِ الرٌَحُمَنِ الرٌَحِــيْمِ الــسَّلَامُ عَلَـيْــكُمْ وَرَحْـــمَــةُ اللٌهِ وَبَـرَ كَـا...